Senin, 03 Desember 2012

Ekspedisi Gunung Slamet (Bagian 2/3)

Perjalanan kembali dipenuhi tantangan dengan turunnya hujan, namun tidak terlallu deras. Meskipun begitu, kami perlu waspada atas segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Oleh karena itu, 3 orang dari anggota tim kami putuskan untuk berangkat lebih cepat menuju Pos V, karena hanya disitulah lokasi yang memungkinkan untuk dijadikan tempat mendirikan tenda. Sedangkan 8 orang lainnya berjalan dengan kecepatan normal dengan sesekali diguyur hujan yang tidak pasti turunnya. Ditambah lagi dengan vegetasi yang tumbuh lebat, membuat kami beberapa kali tas carrier tersangkut akar pohon yang melintang di tengah jalur.
Kedelapan orang yang berada dibelakang tadi akhirnya tiba di Pos IV pukul 14.32. Kami tidak beristirahat lama di Pos ini, hanya sekitar 8 menit. Hal ini harus kami lakukan karena menurut mitos para pendaki dan warga sekitar Gunung Slamet, di Pos IV seringkali terjadi ‘penampakan’ atau kejadian-kejadian mistis lain yang seringkali membahayakan pendaki. Ituulah alasannya kenapa Pos IV tidak pernah dijadikan sebagai tempat camp / bermalam.

 Pos IV

Longsor di tebing-tebing sekitar jalur pendakian mewarnai perjalanan kami dari Pos IV menuju Pos V. Hal ini seolah-olah menjadi peringatan bagi kami berhati-hati dalam melangkah di sepanjang jalur ini. Jalan yang licin karena hujan menjadi ancaman tambahan kami. Sempat beberapa kali kami mengenakan dan melepas ponco karena hujan yang turun kadang deras kadang reda. Akhirnya dalam waktu 40 menit kami berhasil mencapai Pos V dimana kami akan bermalam sampai pendakian puncak esok hari.

 Pos V Mata Air

Alangkah beruntungnya kami saat mengetahui bahwa tidak ada pendaki lain yang menempati gubuk Pos V. Kami bisa bermalam di Pos V tanpa harus kesulitan mendirikan tenda. Segera setelah masuk ke gubuk, sebagian dari kami langsung menyiapkan perlegkapan untuk memasak hidangan makan malam. Sebagian lain ada yang menunaikan shalat, dan ada juga yang mengambil air dari mata sungai untuk minum dan keperluan memasak. Tas carrier di dalam gubuk kami rapihkan dan kami tata agar nyaman digunakan untuk beristirahat malam nanti.
Saat hari semakin gelap rupanya pendaki yang datang ke Pos V semakin banyak. Karena gubuk sudah kami tempati, para pendaki tersebut harus mencari lokasi lain untuk bermalam. Bahkan saking penuhnya, beberapa pendaki memaksakan diri untuk lanjut ke Pos VII. Tempat lain yang dapat dijadikan camp, namun masih sekitar 1 jam perjalanan dari Pos V. Pos V yang siang tadi sepi, berubah layaknya perkemahan Pramuka yang setiap tendanya saling berdekatan satu sama lain.
Pendakian menuju puncak kami rencakan dimulai pagi sebelum subuh. Oleh karena itu, kami harus tidur lebih awal supaya target waktu bisa tercapai, tapi tetap tidak mengurangi waktu isrtirahat kami. Sebelum tidur kami sepakat untuk bangun pukul 3 pagi.
Pagi pun tiba, kami bangun pukul 3 pagi. Kami memang tidak terlambat bangun, namun persiapan setelah bangun menuju perjalanan pendakian yang cukup lama membuat kami terlambat hingga 2 jam. Perlengkapan pendakian yang harusnya sudah siap kami bawa tidak bisa kami temukan karena kondisi penerangan yang terbatas. Tepat pukul 05.00 kami siap dengan semua perlengkapan menuju puncak Gunung Slamet.

Berangkat menuju puncak

Perjalanan dari Pos V menuju Pos VI tidak memakan waktu lama. Hanya perlu waktu sekitar 15 menit kami sudah berada di Pos VI. Kami tidak terlalu lama beristirahat di pos ini. Selain karena luas lokasinya yang sempit, kami juga belu terlalu lelah. Tidak ada hal menarik di Pos ini, termasuk pemandangan yang bisa terlihat dari sini. Pos ini lebih cocok di sebut sebagai checkpoint biasa daripada pos. Setelah 5 menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju pos terakhir, Pos VII.

Pos VI Pondok Sanghyang Jampang

Semakin dekat ke daerah puncak, vegetasi yang kami temui semakin jarang. Dominasi pohon-pohon besar dan berakar gantung menjulur panjang mulai digantikan tanaman berdaun jarang dan semak-semak. Pemandangan yang bisa terlihat dari posisi ini mulai tampak memukau di tengah pancaran sinar matahari pagi. Tiga puluh lima menit berlalu dan akhirnya kami tiba di Pos VII. (bersambung . . .)

 Pos VII

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer